Komet van Java: Lintang Kemukus dan Legenda Keris Pusaka Majapahit

Saya masih duduk di kelas satu atau kelas dua Sekolah Dasar (SD) ketika komet Halley kembali mendekati Matahari tahun 1986 lalu. Peristiwa hadirnya komet Halley tentunya membuat masyarakat cukup heboh, dan muncullah artikel-artikel dan berita-berita mengenai komet di berbagai media massa. Kakak-kakak kelas saya di sekolah bahkan menerbitkan majalah dinding yang memuat informasi tentang komet, dengan gambar-gambar yang sangat menarik.

Komet Halley dipotret oleh W. Liller dari Pulau Paskah tanggal 8 Maret 1986. Sumber: Wikipedia

Sebagai anak SD yang masih belum banyak memahami sains dan belum bisa berpikir kritis, saya menyerap setiap informasi tanpa filter, terutama informasi yang bombastis. Salah satu informasi bombastis yang saya terima saat itu adalah bahwa terlihatnya komet di langit adalah suatu pertanda akan terjadinya hal-hal yang buruk, misalnya wabah penyakit, kematian, dan becana. Sebagai anak kecil tentunya saya ketakutan. Saya bahkan takut keluar rumah ketika malam hari. Untunglah orang tua saya memiliki banyak cara dan literatur untuk menjelaskan hal ini kepada saya, tentunya dengan bahasa yang dapat dipahami oleh seorang anak kelas satu SD dan dengan gambar-gambar yang mendukung.

Rasa takut masa kecil ini memang sudah hilang begitu saya mengetahui apa komet yang sebenarnya, namun rasa penasaran saya tetap ada. Apa yang membuat masyarakat atau teman-teman saya ketika itu mengatakan bahwa kemunculan komet adalah pertanda buruk? Maka mulailah saya mencari tahu asal-usul ceritanya.

Sebagai catatan, saya pernah mendengar berbagai versi legenda-legenda masyarakat Jawa mengenai komet. Dalam tulisan kali ini saya akan membahasnya dari sisi legenda Keris Pusaka Kerajaan Majapahit.


Komet: Fakta Sains

Sebagai pembuka, mari kita bahas secara singkat mengenai komet dari sudut pandang ilmiah. Kata komet berasal dari bahasa Latin cometa atau cometes, suatu istilah yang ternyata diturunkan dari bahasa Yunani. Arti kata cometa atau cometes adalah 'berambut panjang'. 'Rambut panjang' dalam penamaan ini merujuk pada 'ekor' atau cahaya terang memanjang yang terlihat dari Bumi ketika komet melintas.


Komet saat mendekati Matahari, akan terbentuk ekor komet dari gas dan debu. Sumber: Wikipedia


Secara sederhana, komet adalah suatu benda langit yang berukuran kecil yang juga mengelilingi Matahari. Nukleus atau inti dari komet terdiri dari batu keras, debu, es (es air, H2O), dan gas-gas beku seperti karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), metan (CH4) dan ammonia (NH3). Ketika komet berada dalam posisi terjauh dari Matahari (aphelion) komet tak ubahnya sebuah batu berlapis es dan gas beku biasa. Komet tidak memiliki cahayanya sendiri, dan bahkan tidak berekor sebagaimana ketika komet mendekati Matahari dan melintasi Bumi. Karena ukurannya yang kecil, komet dalam kondisi seperti ini sulit untuk diamati dari Bumi. Namun ketika komet mendekati Matahari (perihelion) temperatur permukaan komet akan meningkat seiring dengan meningkatnya energi panas matahari yang diterima oleh komet. Akibatnya, bahan-bahan beku mulai mencair dan menguap, membentuk semacam lapisan “awan” di sekeliling nukleus komet yang disebut coma (yang berarti ‘rambut’). Didorong oleh tekanan radiasi Matahari dan angin Matahari, bahan-bahan volatil ini terdorong ke luar dengan arah yang menjauhi Matahari, membentuk ekor. Dalam situasi-situasi tertentu, kita dapat mengamati fenomena jet di permukaan komet, dimana pemanasan yang tidak merata pada permukaan komet mengakibatkan gas-gas yang baru terbentuk “meledak” dari permukaan komet.

Perlu kita catat bahwa pada dasarnya komet memiliki dua ekor, yaitu ekor debu dan ekor gas. Meskipun kedua ekor ini sama-sama menjauhi Matahari, namun keduanya memiliki sudut arah yang berbeda. Ekor gas umumnya lurus, searah dengan arah angin Matahari sesuai posisi komet saat itu, namun ekor debu akan sedikit lebih melengkung.


Komet van Java: Komet dalam Budaya Jawa 

Dalam bahasa Jawa komet dikenal dengan nama Lintang Kemukus, yang berarti bintang berekor. Tulisan ini akan membahas legenda komet yang berkaitan dengan sejarah Indonesia, yaitu sejarah Kerajaan Majapahit.

Kita semua tentunya pernah mendengar tentang Kerajaan Majapahit dari pelajaran sejarah kuno Indonesia. Kerajaan Majapahit (1293 – 1527) adalah salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia. Wilayah kerajaan Majapahit sangat luas, yang bila dilihat dari kacamata geografi modern meliputi Indonesia secara keseluruhan, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Timor Leste dan Filipina. Majapahit mencapai masa kejayaan di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan patihnya yang terkenal yaitu Gadjah Mada.

Dalam kehidupan bernegara di Majapahit, kerajaan tersebut terpecah menjadi dua golongan, yaitu golongan atas yang terdiri dari anggota kerajaan, keluarga bangsawan dan orang-orang kaya, serta golongan bawah yang terdiri dari rakyat jelata. Perbedaan dan perselisihan di antara kedua golongan ini begitu besar sehingga mengancam persatuan dan kesatuan Majapahit ketika itu. Untuk mengatasi masalah ini, dipanggilah sekitar seratus orang Empu (orang bijak, pembuat keris) untuk membuat satu keris sakti untuk mempersatukan bangsa.

Kersi istimewa tersebut dibuat dari bahan yang diambil dari berbagai daerah dan dinamai Kyai Condong Campur. Nama tersebut dipilih sesuai dengan tujuannya. Kata 'condong' dalam bahasa Jawa kuno (yang mungkin sudah diserap menjadi bahasa Indonesia) berarti 'cenderung/lebih mendekati/mengarah pada…'. Sementara 'campur' berarti 'menjadi satu' atau 'persatuan'. Dengan demikian, arti nama keris ini kurang lebih adalah 'pembawa persatuan'.

Masyarakat Majapahit (dan masih diyakini oleh masyarakat Jawa masa kini) meyakini bahwa setiap keris pusaka memiliki kekuatan spiritual dan supernatural, bahkan memiliki karakternya sendiri-sendiri. Demikian pula dengan keris Kyai Condong Campur. Keris tersebut diharapkan memiliki karakter pemersatu, namun betapa terkejutanya para Empu pembuat keris ketika mengetahui bahwa Kyai Condong Campur memilki karakter yang jahat dan ingin menguasai.

Pada masa itu, setiap golongan memiliki keris yang menjadi simbol golongan mereka. Golongan Atas memiliki keris pusaka yang bernama Keris Sabuk Inten (nama yang berarti 'ikat pinggang permata/intan') dan golongan bawah memiliki keris pusaka bernama Keris Sengkelat. Nama 'sengkelat' diyakin berasal kari kata-kata Jawa sengkal atine yang berarti 'hati yang berat/lelah/kecewa', dikaitkan dengan kondisi hati masyarakat kelas bawah yang penuh kekecewaan atas kondisi kehidupan mereka yang berat. Keris Sabuk Inten merasa terancam dengan kehadiran Keris Kyai Condong Campur, maka Kersi Sabuk Inten menantang Keris Kyai Condong Campur untuk bertarung.

Setelah melalui pertarungan yang sengit, Keris Sabuk Inten kalah dalam pertarungan tersebut. Mengetahui karakter jahat Keris Kyai Condong Campur, Keris Sengkelat akhirnya bertarung melawan Kyai Condong Campur meskipun sebenarnya ia segan bertarung. Di luar dugaan, Keris Sengkelat berhasil mengalahkan Kyai Condong Campur yang terkenal sakti. Keris Kyai Condong Campur amat murka kareka kekalahannya. Dalam kemarahannya Keris Kyai Condong Campur bersumpah bahwa ia akan kembali setiap 500 tahun untuk membawa ontran-ontran (bahasa Jawa, yang berarti 'kekacauan/bencana') ke tanah Majapahit. Setelah mengucapkan sumpahnya, Keris Kyai Condong Campur melesat ke angkasa, meninggalkan jejak cahaya terang. Inilah yang dikenal orang Jawa/Majapahit sebagai Lintang Kemukus, bintang berekor. Mungkin inilah sebabnya masyarakat Jawa hingga saat ini masih percaya bahwa penampakan komet di langit adalah pertanda akan adanya bencana.

Kisah tersebut memang termasuk kategori legenda atau mitos. Namun entah hanya karena kebetulan atau memang ada kebenaran di dalam cerita tersebut, perpecahan di dalam kerajaan Majapahit tidak pernah terjembatani. Perpecahan ini, tentunya dengan kontribusi berbagai faktor lain dalam kondisi politik dan kemasyarakatan kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan di sekitarnya pada masa itu, akhirnya menjadi sebab runtuhnya kerajaan Majapahit. Semuanya kami serahkan kembali kepada para pembaca.


Makna Penampakan Komet

Tradisi Jawa memiliki semacam primbon atau ilmu mengartikan makna penampakan komet di langit berdasarkan arah kemunculan komet tersebut. Secara umum, penampakan komet membawa hal yang kurang baik, kecuali apabila komet tersebut muncul di arah barat. Dikutip dari buku Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu karya R.M. Ng. Tiknopranoto dan R. Mardisuwignya, makna kemunculan komet dapat diartikan sebagai berikut:

Timur
Arah dan Makna:
Yen ana lintang kemukus metu ing: Wetan, ngalamat ana ratu sungkawa. Para nayakaning praja padha ewuh pikirane. Wong desa akeh kang karusakan lan susah atine. Udan deres. Beras pari murah, emas larang.
Terjemahan:
Jika ada bintang berekor muncul di sebelah timur merupakan pertanda ada raja sedang berbela sungkawa. Para pengikutnya sedang bingung pikirannya. Orang desa banyak mengalami kerusakan dan bersusah hatinya. Beras dan padi murah harganya, tetapi emas akan mahal harganya.

Tenggara

Arah dan Makna:
Kidul-wetan: ngalamat ana ratu surud (seda). Wong desa akeh kang ngalih, udan arang. Woh2an akeh kang rusak. Ana pagebluk, akeh wong lara lan wong mati. Beras pari larang. Kebo sapi akeh kang didoli.
Terjemahan:
Tenggara. Pertanda ada raja meninggal. Orang desa banyak yang pindah. Hujan menjadi jarang. Buah-buahan banyak yang rusak. Ada wabah penyakit. banyak orang sakit dan meninggal. Beras dan padi mahal. Kerbau dan sapi banyak yang dijual oleh pemiliknya.

Selatan

Arah dan Makna:
Kidul: ngalamate ana ratu surud (seda). Para panggedhe pada susah atine. Akeh udan. Karang kitri wohe ndadi.Beras pari, kebo sapi murah regane. Wong desa pada nalangsa atine, ngluhurake panguwasane Pangeran kang Maha Suci.
Terjemahan:
Selatan. Pertanda ada raja meninggal. Para pembesar sedang bersusah hatinya. Banyak hujan. Hasil kebun melimpah hasilnya. Beras, padi, kerbau, dan sapi murah harganya. Orang desa merana hatinya, mengagungkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Suci.

Barat Daya

Arah dan Makna:
Kidul Kulon, ngalamat ana ratu surud. Wong desa padha nindakake kabecikan. Beras pari murah. Karang kitri wohe ndadi. Kebo sapi akeh kang mati.
Terjemahan:
Barat daya. Pertanda ada raja meninggal. Orang desa melakukan kebajikan. Beras dan padi murah harganya. Hasil kebun berlimpah ruah. Kerbau dan sapi banyak yang mati.

Barat

Arah dan Makna:
Kulon bener, ngalamat ana jumenengan Ratu. Panggede lan wong desa padha bungah atine. beras pari murah. Apa kang tinandur padha subur, kalis ing ama. Udan deres tur suwe. Barang dagangan wujud apa bae padha murah regane, jalaran saka oleh nugrahaning Pangeran.
Terjemahan:
Barat. Pertanda ada penobatan Raja. Pembesar dan orang desa merasa senang hatinya. Beras dan padi murah harganya. Apa yang ditanam akan berbuah subur dan cepat membuahkan hasil. Hujan deras dan lama. Barang yang diperjual-belikan dalam bentuk apa saja akan murah harganya, karena memperoleh berkah Tuhan.

Barat Laut

Arah dan Makna:
Lor kulon, ngalamat ana Ratu pasulayan, rebutan raja darbeke lan pangwasane. Para Adipati padha tukaran rebut bener. Wong desa padha sedhih atine. Kebo sapi akeh kang mati. udan lan gludhug salah mangsa. Grahana marambah-rambah tur suwe. Beras pari larang emas murah.
Terjemahan:
Barat laut. Pertanda ada raja berselisih memperebutkan kekuasaan. Para adipat berselisih memperebutkan kekuasaan. Warga desa bersedih hatinya. Kerbau dan sapi banyak yang mati. Hujan dan petir akan terjadi di musim yang salah. Kekurangan (gerhana) akan semakin meluas dan berjangka waktu lama. Beras dan padi akan mahal harganya, namun emas murah harganya.

Utara

Arah dan Makna:
Lor bener: ngalamat ana Ratu ruwet panggalihe jalaran saka kisruh paprentahane, kang temahan nganakake pasulayan, banjur dadi perang. beras pari larang, emas murah.
Terjemahan:
Utara: pertanda ada raja yang kalut pikirannya karena kekeruhan dalam pemerintahan. Akan timbul perselisihan yang berkembang menjadi peperangan. Beras dan padi mahal harganya, namun emas murah.

Penutup

Riset yang saya lakukan untuk membuat tulisan ini merupakan pencarian pribadi saya atas sebab ketakutan saya di masa kecil. Apabila dilihat dari cerita keris pusaka dan juga primbon Jawa, tidak mengherankan bahwa kemunculan komet Halley di tahun 1986 membuat masyarakat di sekitar tempat tinggal saya di sebuah kota kecil di Jawa menggali kembali budaya dan tradisi nenek moyang mereka. Masyarakat Jawa yang pada masa itu sebagian masih berpola pikir tradisional tentunya akan langsung kembali kepada tradisi turun temurun untuk menjelaskan fenomena alam yang luar biasa ini.

Meskipun demikian, kemajuan sains telah membuka sebagian dari misteri komet. Diluncurkannya misi Rosetta oleh European Space Agency (ESA) untuk mengorbit dan mendaratkan robot lander Philae di komet 67P/Churyumov-Gerasimenko adalah terobosan terbaru dunia sains untuk memahami lebih dalam segala sesuatu tentang komet. Sungguh beruntung kita hidup di masa eksplorasi ruang angkasa!

Penulis: Ni Nyoman Ayu Cinde Dhitasari



Posted by sewingmonkeys

0 comments:

Post a Comment