Bangkok dan Kisah Meteor-terang di Siang Hari

Denyut jantung kota metropolitan yang juga adalah ibukota Thailand itu mulai meninggi, layaknya hari-hari kerja biasanya di sebuah kota besar. Arus lalu lintas memadat dan kadang macet di jalan-jalan raya yang menjadi urat nadinya. Semua seakan berjalan seperti biasa. Terkecuali saat jarum jam tepat menunjuk pukul 08:40 setempat. Saat mendadak seberkas cahaya terang melesat dari timur ke barat, tepat di atas kota. Dengan langit kebiruan nan bersih nyaris tanpa tutupan awan, cahaya terang berwarna keputih-putihan itu amat jelas terlihat. Banyak orang menyaksikannya. Sejumlah mobil yang kebetulan dilengkapi kamera dasbor pun merekamnya. Hanya sejurus cahaya benderang itu nampak, berdetik kemudian ia kembali lenyap.

Peristiwa Senin pagi itu sontak menggegerkan Bangkok. Dan dalam beberapa jam kemudian peristiwa tersebut, yang lantas lebih dikenal sebagai Peristiwa Bangkok 2015, pun mendunia. Rekaman-rekaman kamera dasbor tentangnya segera menjadi viral. Spekulasi pun merebak. Apa yang sesungguhnya terjadi baru dipahami dalam berbelas jam kemudian. Diawali saat jejaring pengawasan penegakan larangan ujicoba nuklir global dalam segala matra yang bertajuk CTBTO (the Comprehensive nuclear Test Ban Treaty Organization) melansir temuannya. Peristiwa Bangkok 2015 terekam dalam jejaring mereka khususnya melalui radas (instrumen) mikrobarometer pada sedikitnya lima stasiun pemantau.


Radas mikrobarometer dalam CTBTO sejatinya ditujukan untuk mendeteksi aksi pelepasan energi tinggi yang menjadi salah satu ciri khas ledakan nuklir khususnya di matra atmosfer dengan cara mendeteksi gelombang infrasonik sebagai hasil transformasi dari gelombang kejut ledakan. Namun radas yang sama juga berkemampuan mendeteksi pelepasan energi tinggi dari sumber lain, misalnya dalam kejadian meteor-sangat terang (fireball) atau bahkan boloid (bolide).

Dan lima stasiun CTBTO merekam penjalaran gelombang infrasonik yang konsisten dengan boloid dalam Peristiwa Bangkok 2015. Radas mikrobarometer terdekat yang mendeteksinya terletak di Pulau Cocos (Australia) di tengah-tengah Samudera Indonesia yang berjarak 2.900 kilometer dari Bangkok. Sedangkan mikrobarometer terjauh yang masih sanggup mengendusnya berada di Alaska (Amerika Serikat), yang berjarak 10.000 kilometer. Analisis terhadap gelombang-gelombang infrasonik ini memperlihatkan Peristiwa Bangkok 2015 melepaskan energi dalam perkiraan kasar antara 5 hingga 30 kiloton TNT.

Pasca CTBTO giliran badan antariksa Amerika Serikat (NASA) melansir temuannya melalui NASA Near Earth Object Program. Berbekal rekaman sensor optis satelit mata-mata rahasia milik Departemen Pertahanan Amerika Serikat, yang berbagi data astronomi untuk kepentingan sipil melalui NASA secara rutin pasca Peristiwa Chelyabinsk 2013, Peristiwa Bangkok dipastikan merupakan kejadian boloid. Sensor satelit mata-mata merekam pelepasan energi dalam spektrum cahaya tampak (visual) dengan pola menerus (‘zoo event‘) yang khas untuk kejadian meteor-sangat terang maupun boloid. Jadi berbeda dengan detonasi senjata nuklir atmosferik yang spektrumnya berpola diskret (dengan dua puncak). Boloid dalam Peristiwa Bangkok 2015 mengemisikan energi 1.798 Giga Joule dalam spektrum cahaya tampak. Pada saat itu obyek yang melepaskan energi tersebut terdeteksi melaju secepat 16 km/detik (57.600 km/jam).

Menggunakan rumus empiris dari Brown dkk (2002) maka diketahui Peristiwa Bangkok 2015 melepaskan energi 3,9 kiloton TNT. Pada dasarnya rekaman sensor satelit mata-mata menghasilkan akurasi jauh lebih tinggi ketimbang pembacaan radas mikrobarometer. Sehingga dapat dikatakan bahwa Peristiwa Bangkok 2015 melepaskan energi 3,9 kiloton TNT.

Sejauh ini Peristiwa Bangkok 2015 adalah kejadian boloid paling energetik sepanjang tahun 2015 TU. Meski ia masih belum seberapa bila dibandingkan dengan Peristiwa Bone 2009 yang terjadi pada 8 Oktober 2009 TU di atas Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Indonesia) dengan pelepasan energi 60 kiloton TNT. Apalagi bila dibandingkan dengan Peristiwa Chelyabinsk 2013 di sisi barat Pegunungan Ural (Russia) pada 13 Februari 2013 TU yang melepaskan energi 590 kiloton TNT . Sebagai pembanding, letusan bom nuklir Hiroshima di akhir Perang Dunia 2 melepaskan energi 20 kiloton TNT .


Berbekal data-data tersebut, simulasi sederhana menggunakan persamaan-persamaan matematis yang diakumulasikan Collins dkk (2005) memperlihatkan boloid itu semula adalah meteoroid yang berupa asteroid kecil. Dengan pelepasan energi maksimum di ketinggian 29 kilometer dpl, meteoroid itu tergolong padat dengan massa jenis sekitar 5 g/cc. Pada kecepatan 16 km/detik, maka massa minimum meteoroid adalah 130 ton. Jika ia berbentuk bola sempurna maka diameternya minimal 3,7 meter. Dianggap sudut antara lintasan meteoroid dengan paras bumi Bangkok adalah 45°, maka kala meteoroid itu memasuki atmosfer Bumi ia berubah menjadi boloid yang akan mencapai puncak kecerlangannya pada ketinggian sekitar 35 kilometer dpl. Selanjutnya ia bakal melepaskan hampir seluruh energi kinetiknya lewat mekanisme airburst (ledakan di udara) pada ketinggian 29 kilometer dpl.

Meski nilai energi ini terkesan besar bagi manusia, karena setara kekuatan bom nuklir taktis atau setara seperlima bom nuklir Hiroshima, namun efek panas dan mekaniknya terlalu kecil untuk bisa menghasilkan kerusakan langsung di daratan Bangkok yang persis ada dibawahnya.



Sumber:
Posted by sewingmonkeys

0 comments:

Post a Comment