Melihat Hitam-Putih Nelson Mandela Dalam Long Walk to Freedom

Long Walk to Freedom, judul yang sama dengan autobiografi Nelson Mandela boleh jadi film yang paling komplet menggambarkan perjalanan hidup tokoh besar Anti-Apartheid ini. Tidak saja suka-duka perjuangannya, tapi juga sisi hidupnya baik dan buruk. Benar-benar menguak kesadaran psikologis kita.

Siapa tak kenal Mandela, orang yang paling berjasa menghantar masyarakat Afrika Selatan akhirnya menggapai kemerdekaannya, setelah sekian lama terjajah di tanah kelahiran mereka. Mendobrak supremasi kulit putih demi kesetaraan, pengakuan hakiki semua manusia adalah sama.




Long Walk to Freedom bukan hanya mengajak kita melihat penderitaan Mandela di dalam sel 27 tahun, namun sisi-sisi kehidupan seorang pahlawan, yang juga manusia biasa. Pernah membuat kesalahan, lalu belajar menyadarinya dan akhirnya fokus pada mimpi yang diperjuangkannya.

Idris Elba dan Naomie Harris, yang didapuk jadi pemeran Nelson-Winnie Mandela berhasil menjiwai tokoh aslinya. Banyak kalimat yang diucapkan Elba membuat kita bergetar, seolah mendengar langsung dari mulut Mandela sendiri.

Sutradara Justin Chadwik membawa kita pada awalnya ke tahun 1942 di Johannesburg, saat Mandela menjadi pengacara sukses, selalu tampil menawan dalam setelan jas sehingga memesona banyak wanita. Mandela adalah lelaki sukses dalam karir di masa mudanya. Layaknya stereotip kaum pria yang sedang 'di atas angin' hal ini membuatnya terperosok. Ia sering main perempuan dan berakibat hancurnya perkawinan pertama dengan Evelyn Mase.

Di saat yang sama, Mandela juga bergabung dengan Kongres Nasional Afrika. Suatu masa ketika bertemu Winnie yang  bekerja di Rumah Sakit Baragwanath sebagai pekerja sosial.Nelson yang tak pernah lelah mendesak tentang anti apharteid membuat masa pacaran mereka menjadi romantis sekaligus kacau (juga kacau karena skandal ini mengakibatkan Mandela ditinggal istri pertamanya).

Sebuah hal yang membuat kita dilanda dilema, apakah ini sekadar 'kesalahan' karena mengacaukan hidup berkeluarga dengan Evelyn, atau sebuah jalan hidup yang harus dilakoni Mandela?

Bersama Winnie bukanlah kisah cinta yang melulu romantik. Mereka berdua awalnya terkendala masalah bahasa, karena Mandela dan Winnie tidak memakai bahasa yang sama. Kemudian saat akhirnya menikah, Winnie sudah harus belajar untuk bertahan hidup sendiri, hal ini menjadi lebih buruk saat Mandela ditangkap dan dipenjarakan pada tahun 1962, selain itu Winnie juga menjadi tahanan politik dan ditahan di penjara isolasi selama hampir dua tahun.

Bagaimanapun, kami, tim apakabardunia.com sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton. Begitu banyak pelajaran, renungan dan semangat yang semoga dapat ditularkan dalam hidup kita. Betapa berartinya kesetaraan dan persamaan ras. Bumi adalah milik semua orang yang bisa menjaganya, tak peduli warna kulitmu.














Sumber:
latimes
kvltmagz
Posted by sandipras

0 comments:

Post a Comment