Wojtek, Beruang yang Jadi Tentara di PD II

Kisah nyata dalam sejarah Perang Dunia II. Seekor beruang bisa bergabung dengan pasukan Polandia. Ikut maju ke baris depan medan tempur, gemar minum bir namun paling takut dengan kuda.

Di awal perang dunia II, Polandia tercabik jadi dua bagian, wilayah barat dikuasai Jerman dan bagian timur milik Rusia. Negara pencetus polska dance ini kehilangan kedaulatannya. Barulah ketika Jerman menyerang Rusia, tentara Polandia yang ditawan pihak Rusia dibebaskan dengan syarat membantu Sekutu.


Tahun 1942, di bawah komando Inggris Raya. beberapa unit tentara Polandia mendarat di Persia menuju Mesir dan Palestina. Saat mereka tiba di pegunungan, seorang anak penggembala berkebangsaan Iran asik bermain dengan anak beruang. Akhirnya penggembala ini rela menukar anak beruang tersebut pada tentara Polandia dengan sejumlah makanan.

Demikianlah, anak beruang ini menemani tentara sepanjang perjalanan mereka. Ia kemudian diberi nama Wojtek (dilafalkan: Voytek). Beberapa orang berpendapat nama ini berarti "Dia yang menikmati perang". Namun nama "Wojtek" sebenarnya nama 'sejuta umat' masyarakat Polandia layaknya "Jack" bagi masyarakat barat, atau "Budi" dan "Udin" di Indonesia.

Wojtek bertumbuh bersama pasukan Polandia. Awalnya hanya diberi minum susu hingga semakin besar bisa mengunyah makanan yang lebih keras. 

Hidup dalam lingkungan tentara di medan perang membuat Wojtek akrab dengan bir. Bahkan inilah minuman favoritnya.

Sebagaimana layaknya beruang yang bertenaga besar, Wojtek yang tumbuh setinggi 180 cm (posisi berdiri dua kaki) gemar bergulat dengan siapa saja. Selain para tentara, ia juga kerap mengajak gulat seekor anjing Dalmatian yang juga ikut dalam pasukan. Merasa tak punya lawan tanding sepadan, akhirnya Wojtek mencoba bergulat dengan kumpulan kuda yang ada. Sayang, sepakan kuda dengan sukses membuatnya K.O. Sejak itu Wojtek paling takut dan selalu menghindari pasukan berkuda.
 


Menangkap pencuri
Jasa Wojtek pertama yang tercatat adalah saat berhasil menangkap pencuri tanpa sengaja. Dikisahkan suatu malam seorang pencuri menerobos ruangan amunisi, tapi langsung terkejut begitu melihat seekor beruang besar di dalam ruangan. Rupanya Wojtek memang selalu tidur tiap malam di tempat tersebut. Pencurian pun gagal. Dan atas jasanya, Wojtek mendapat hadiah besar yakni: bir!


Jadi Kopral
Saat unit tentara Polandia ini mendekati Italia, mereka mendapat masalah. Wojtek hanyalah seekor beruang, ia tak akan boleh ikut masuk kapal yang menuju Naples. Akhirnya ada satu jalan keluar yakni menahbiskan pangkat pada Wojtek sebagai kopral. Ia pun diajarkan cara memberi hormat layaknya seorang tentara.

Setibanya di Naples, seorang anggota tentara British Army yang bertugas membantu urusan registrasi, Archibald Brown dibuat bingung saat melakukan pendataan. Pasalnya ketika nama kopral Wojtek dipanggil, tak ada satu pun yang menyahut. Sempat menimbulkan sedikit masalah sampai akhirnya Brown dibawa menuju tempat Wojtek berada. Ia pun sangat terkejut melihat sang kopral berbulu coklat sedang asik meringkuk di dalam kandang.
 

Bagaimanapun, Wojtek akhirnya resmi bergabung dalam pasukan. Tugasnya jadi pengangkut mortir bagi pasukan yang ada di garis depan. Ia menjadi maskot kebanggan unit pasukan Polandia tersebut.

Ketika perang berakhir, ia masih bisa menikmati pergaulannya bersama sekitar 3000 tentara Polandia di kamp Berwickshire. Hingga tahun 1947, ketika semua harus kembali ke kampung halaman, Wojtek pindah ke rumah barunya di kebun binatang Edinburgh.

Selama tahun-tahun sesudahnya, kawan-kawannya di unit tentara masih sering mengunjungi sang kopral. Sampai akhirnya Wojtek berpulang di usia 22 tahun. Umumnya usia rata-rata beruang cokelat Syria adalah 48 tahun, namun Wojtek hanya mencapai separuhnya saja. Mugkin ia kehilangan suasana alam bebas yang penuh gelora di medan tempur. Seperti arti dari namanya, "Dia yang menikmati perang".

Sosoknya tetap dikenang sebagai maskot, terus dipajang menjadi badge kebanggaan, lambang resmi unit 22nd Transport Company.






 




sumber:
pras.blog.
Posted by sandipras

0 comments:

Post a Comment