Renungan: Timbunan Senjata di Ladang

Seorang lelaki tua renta tinggal di sebuah rumah pertanian. Sudah beberapa hari ini waktunya lebih banyak dihabiskan duduk termenung memandangi ladang yang kosong. Tenaganya sudah habis, ia hanya mampu menggali sedikit setiap hari sebelum ditanami kentang lagi. Istrinya sudah lama meninggal, anak semata wayangnya kini mendekam di penjara karena terlibat revolusi melawan pemerintah.

Ilustrasi /  lindanorgrovefoundation.org

Akhirnya lelaki tua ini menulis secarik surat untuk anaknya:

Tegar, berapa lama lagi kamu harus mendekam di tahanan? Ayah kuatir tak sanggup menunggu hingga kamu bebas. Kamu tahu, kita hanya punya ladang sebagai penyambung hidup. Tetapi tenaga ayah sudah tak kuat lagi menggali tanah untuk ditanami kentang. Seandainya kamu ada di sini, hanya kamu yang masih punya tenaga untuk membantu ayah.

Ayahanda



Dua hari kemudian, datang telegram dari Tegar, anaknya:

Ayah, jangan gali tanah di ladang. Ada timbunan senjata saya sembunyikan.

Ayahnya kaget mendengar kabar ini. Ia pun tak bisa tidur semalaman, ngeri membayangkan apa yang terjadi. Kekuatirannya terbukti, beberapa jam kemudian mobil-mobil polisi telah mengepung rumahnya. Pasukan tersebut membawa cangkul dan langsung menggali di setiap sudut ladang. Nihil. Tak ditemukan apa-apa. Mereka kembali pergi meninggalkan rumah lelaki tua ini.

Dengan penuh kebingungan, lelaki tua ini pergi ke kantor pos dan mengirim telegram untuk anaknya:

Tegar, ayah tak mengerti. Apa maksudmu?

Selang beberapa jam kemudian, Tegar membalas pesan ayahnya:

Sekarang ayah bisa menanam kentang. Tanah sudah digali berkat bantuan polisi. Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk menolong ayah. Salam sayang, Tegar.

Moral
Untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang, tak selamanya kita harus hadir di hadapan orang yang kita cintai. Walau terpisah jarak, masih banyak cara untuk membuktikan dan memberi kasih sayang.
Posted by sandipras

0 comments:

Post a Comment