Ritual Unik Suku Toraja Membersihkan dan Mengganti Busana Jenazah Leluhur


Tana Toraja di Sulawesi Selatan sudah lama terkenal dengan alam pegunungannya yang permai serta ritual adatnya yang unik. Yang paling tersohor, tentu saja, pesta Rambu Solo yang digelar menjelang pemakaman tokoh yang dihormati.
Tana Toraja di Sulawesi Selatan sudah lama terkenal dengan alam pegunungannya yang permai serta ritual adatnya yang unik. Yang paling tersohor, tentu saja, pesta Rambu Solo yang digelar menjelang pemakaman tokoh yang dihormati.

Tiap tahun pesta yang berlangsung di beberapa tempat di Toraja ini senantiasa mengundang kedatangan ribuan wisatawan.Selain Rambu Solo, sebenarnya ada satu ritual adat nan langka di Toraja, yakni Ma’ Nene’, yakni ritual membersihkan dan mengganti busana jenazah leluhur.


Ritual ini memang hanya dikenal masyarakat Baruppu di pedalaman Toraja Utara. Biasanya, Ma’ Nene’ digelar tiap bulan Agustus. Saat Ma’ Nene’ berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena upacara.

Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah dengan yang baru.Mereka memperlakukan sang mayat seolah-olah masih hidup dan tetap menjadi bagian keluarga besar.

http://torajacybernews.com/wp-content/uploads/2011/04/manene-300x240.jpg

http://2.bp.blogspot.com/_-iF-ZS12NIY/S7G8u8mji5I/AAAAAAAAAQo/_J4GNShhHJ4/s1600/26879_1195539983570_1680593833_384333_7108208_n.jpg

http://4.bp.blogspot.com/_-iF-ZS12NIY/S7G8w6Jp17I/AAAAAAAAAQw/YAPwdyc8QSI/s1600/26879_1195539943569_1680593833_384332_3967715_n.jpg

Ritual Ma’ Nene’ oleh masyarakat Baruppu dianggap sebagai wujud kecintaan mereka pada para leluhur, tokoh dan kerabat yang sudah meninggal dunia. Mereka tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.


Asal Muasal Ritual Ma' Nene' di Baruppu

Kisah turun-temurun menyebutkan, pada zaman dahulu terdapatlah seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek. Saat sedang berburu di kawasan hutan pegunungan Balla, bukannya menemukan binatang hutan, ia malah menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan, terlantar, tinggal tulang-belulang.

Merasa kasihan, Pong Rumasek kemudian merawat mayat itu semampunya. Dibungkusnya tulang-belulang itu dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang dan layak. Setelah itu, Pong Rumasek melanjutkan perburuannya.

Tak dinyana, semenjak kejadian itu, setiap kali Pong Rumasek berburu, ia selalu memperoleh hasil yang besar. Binatang hutan seakan digiring ke dirinya. Bukan hanya itu, sesampainya di rumah, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawahnya pun sudah menguning, bernas dan siap panen sebelum waktunya.

Pong Rumasek menganggap, segenap peruntungan itu diperolehnya berkat welas asih yang ditunjukkannya ketika merawat mayat tak bernama yang ditemukannya saat berburu. Sejak itulah, Pong Rumasek dan masyarakat Baruppu memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma’ Nene’.

Dalam ritual Ma’ Nene’ juga ada aturan tak tertulis yang mengikat warga. Misalnya, jika seorang istri atau suami meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma’ Nene’ untuknya.

Ketika Ma’ Nene’ digelar, para perantau asal Baruppu yang bertebaran ke seantero negeri akan pulang kampung demi menghormati leluhurnya.

Warga Baruppu percaya, jika Ma’ Nene’ tidak digelar maka leluhur juga akan luput menjaga mereka. Musibah akan melanda, penyakit akan menimpa warga, sawah dan kebun tak akan menghasilkan padi yang bernas dan tanaman yang subur.

Sumber :
situslakalaka.blogspot.com
Posted by radhite

16 comments:

Yudha d'Liverpudlian said...

Wew, seram & unik..

Rio farizka said...

second place,, jdinya kok sperti mumi y??

Amujasgeneration said...

mantap...
aku bangga jadi orang toraja...
:D

Erickbidangan said...

seep...
kampung ane tu...

D.B Cooper said...

setan tuh 3:)

Salsabila2805 said...

musrik euy !! neng ,mas

vreenzhya said...

aneh..

tp nyata...

Adhani Rahmat said...

orang toraja bener-bener baik,walaupun sudah meninggal tapi mereka tetap menghormatinya.................

Jalias Manta Rombe said...

silele komi meka iyo... aihihihi...

Ika said...

suku2 di indonesia beranekaragam.............
hemmmmm
bangga q jd org indonesia...

Harryarbi said...

kueren ya..............penasaran pengen liat acara itu...........penasaran pngn liat mayat2 yg msh utuh meski bertaon2 di kubur....................rang toraja lbh hebat dr dokter ato para medis.............dengn ramuan seadanya bisa awetkan mayat................kueren........

Nitamaria21 said...

belum mengenal Tuhan Yesus

Nitamaria21 said...

napa saya bilang seperti tu< belum mengenal TUHAN YESUS karna yg menyelamat kan kita dari smua tu kan  YESUS

Nitamaria21 said...

jadi ritual menggantikan pakaian mayat tu g boleh,

Lantang_agustinus said...

aQ bangga jdi org TORAJA..:)

So niel , so ari , solata so oka said...

Banga na dadi tau toraya aihihihi

Post a Comment